Seminar Budaya “Merawat Budaya di Tengah Arus Modernisasi” Digelar oleh Lembaga Bahasa dan Budaya STKIP Persada Khatulistiwa Sintang
Lembaga Bahasa dan Budaya STKIP Persada Khatulistiwa Sintang menyelenggarakan kegiatan Seminar Budaya secara daring melalui Google Meet dengan tema “Merawat Budaya di Tengah Arus Modernisasi”. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, tentang pentingnya menjaga dan melestarikan budaya lokal di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
Seminar budaya ini dihadiri oleh Ketua STKIP Persada Khatulistiwa Bapak Didin Syafruddin, S.P., M.Si yang sekaligus memberikan kata sambutan dalam kegiatan tersebut. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa budaya merupakan identitas dan kekayaan bangsa yang harus dijaga bersama. Menurutnya, perkembangan teknologi dan modernisasi tidak boleh membuat masyarakat melupakan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.
Selain itu, Kepala Lembaga Bahasa dan Budaya STKIP Persada Khatulistiwa Bapak Valentinus Ola Beding, S.S., M.Pd juga menyampaikan sambutan sekaligus menegaskan pentingnya peran lembaga pendidikan dalam melestarikan budaya daerah. Ia menjelaskan bahwa lembaga bahasa dan budaya memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan kegiatan akademik dan ilmiah yang berkaitan dengan pelestarian bahasa dan budaya lokal agar tetap dikenal oleh generasi muda.
Ketua panitia seminar budaya Yudita Susanti, S.S., M.Pd dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menjelaskan bahwa seminar ini menjadi wadah diskusi ilmiah untuk memperkaya pengetahuan mahasiswa dan masyarakat tentang keberagaman budaya yang ada di Indonesia, khususnya budaya yang berkembang di Kalimantan Barat.
Dalam seminar tersebut hadir dua narasumber yang membahas topik budaya dari sudut pandang yang berbeda. Narasumber pertama, Hendrikus Julung, M.Pd memaparkan materi mengenai budaya Dayak, yang meliputi nilai-nilai kearifan lokal, tradisi masyarakat Dayak, serta pentingnya menjaga warisan budaya tersebut agar tetap lestari. Sementara itu, narasumber kedua Reyfadil Maulana Arzaky membahas mengenai budaya Melayu, termasuk nilai-nilai adat, tradisi, serta peran masyarakat dalam mempertahankan identitas budaya Melayu di tengah arus perubahan zaman.
Melalui kegiatan seminar budaya ini, diharapkan mahasiswa dan masyarakat dapat lebih memahami pentingnya merawat dan melestarikan budaya sebagai bagian dari identitas bangsa. Seminar ini juga menjadi ruang dialog yang produktif untuk menumbuhkan kesadaran bersama bahwa modernisasi tidak harus menghilangkan budaya, tetapi justru dapat berjalan berdampingan dengan pelestarian nilai-nilai tradisi yang ada di masyarakat.
