SINTANG – Upaya pelestarian bahasa daerah di Kabupaten Sintang memasuki babak baru. Aplikasi Kamus dan Cerita Rakyat Dayak Kebahan berbasis web dan Android resmi diluncurkan pada Selasa (22/9/2026) di Gedung Auditorium H.A. Edy Riberu, STKIP Persada Khatulistiwa Sintang.
Peluncuran tersebut menjadi bagian dari kegiatan Diseminasi Karya: Peluncuran dan Sosialisasi Aplikasi Web dan Android serta Seminar Pemajuan Kebudayaan, yang diikuti sekitar 100 peserta dari unsur pelaku budaya, komunitas budaya, pemerintah daerah, dosen, guru, dan mahasiswa.
Aplikasi yang dapat diakses melalui kebahan.org ini merupakan hasil kegiatan Sistem Big Data Kamus dan Cerita Rakyat Dayak Kebahan Berbasis Web dengan Model Crowdsourcing dan Aplikasi Android, yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan (Dana Indonesiana) Tahun 2025.
Dikembangkan bersama masyarakat
Ketua Pelaksana kegiatan, Dr. Herpanus, S.P., M.A., mengatakan aplikasi ini dirancang agar masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga ikut mengisi. Melalui model crowdsourcing, penutur bahasa, guru, dan mahasiswa dapat menambahkan kosakata serta cerita rakyat langsung dari perangkat masing-masing.
“Bahasa adalah rumah bagi pengetahuan, nilai, dan ingatan sebuah masyarakat. Di dalam bahasa Dayak Kebahan tersimpan cara leluhur kita memahami alam, menata kehidupan bersama, dan mewariskan nasihat melalui cerita rakyat,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.
Ia mengajak masyarakat tidak berhenti pada peluncuran tersebut. “Mari kunjungi kebahan.org, unduh aplikasinya, perkenalkan kepada anak-anak dan murid-murid kita, dan ikut menambahkan kosakata serta cerita yang kita ketahui,” katanya.
Hingga peluncuran, platform tersebut telah memuat lebih dari 7.000 kosakata dan 71 cerita rakyat Dayak Kebahan. Aplikasi Android dapat diunduh melalui kebahan.org/unduh. Karya tersebut juga telah memperoleh Hak Kekayaan Intelektual atas program komputer.
Dukungan pemerintah daerah
Peluncuran dilakukan oleh Danus, S.Sos., M.Si., Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sintang, mewakili Kepala Dinas. Dalam paparannya pada Seminar Pemajuan Kebudayaan, ia menyampaikan materi bertajuk “Kebijakan Pemajuan Kebudayaan dan Pelestarian Bahasa Daerah di Kabupaten Sintang.”
Ia menjelaskan bahwa pemajuan kebudayaan berpijak pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017, yang menetapkan sepuluh objek pemajuan kebudayaan, termasuk tradisi lisan dan bahasa. Upaya tersebut dilakukan melalui empat langkah, yaitu pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan.
Di Kabupaten Sintang, pelestarian bahasa daerah antara lain dilakukan melalui lomba sastra lisan dalam Gawai Dayak, penggunaan bahasa daerah dalam upacara adat, serta penetapan Bekana dan Bedudu sebagai Warisan Budaya Takbenda Kabupaten Sintang. Ia juga menegaskan bahwa masa depan kebudayaan berada di tangan generasi muda.
Dari ruang kelas hingga ruang adat
Seminar juga menghadirkan Tedi Suryadi, S.Pd., M.Pd., dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Persada Khatulistiwa Sintang, yang membahas “Dokumentasi Bahasa Daerah dan Pemanfaatannya dalam Pembelajaran.” Menurutnya, hasil dokumentasi bahasa daerah dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar dan bahan penelitian.
Menurutnya, kamus bahasa daerah dapat menjadi jembatan kosakata yang menghubungkan kata yang dikenal siswa di lingkungannya dengan padanan dan maknanya dalam bahasa Indonesia, sekaligus menjadi sumber belajar kontekstual dan penguat literasi.
Ia mencontohkan pemanfaatan kamus dalam pembelajaran membaca dan menulis, mulai dari menelusuri istilah lokal dalam teks, menulis kembali cerita rakyat, hingga menghasilkan produk belajar berupa glosarium cerita rakyat, poster kosakata, buku kecil, maupun kamus digital sederhana.
Sementara itu, pegiat budaya Suku Dayak Kebahan, Noven Honarius, menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda melalui materi “Bahasa dan Cerita Rakyat Dayak Kebahan: Warisan yang Perlu Dijaga Bersama.”
Ia memaparkan bahwa bahasa Kebahan bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga sarana ritual dan perekat antarsubsuku Dayak di wilayah Sungai Kayan dan Melawi. Tradisi Bekana, yaitu menceritakan cerita rakyat kepada anak-anak sebelum tidur, selama ini menjadi salah satu cara pewarisan bahasa dalam keluarga.
Ia juga menyoroti kecenderungan generasi muda Dayak Kebahan yang semakin jarang menggunakan bahasa daerahnya, bahkan ketika berkumpul dengan sesama warga Kebahan. Karena itu, menurutnya, bahasa dan cerita rakyat perlu dijaga bersama sebagai dasar kehidupan masyarakat Dayak Kebahan.
Sosialisasi dan langkah lanjutan
Selain peluncuran dan seminar, panitia menggelar sesi sosialisasi penggunaan aplikasi. Peserta dipandu mencari kosakata, membaca cerita rakyat, memasang aplikasi Android, serta mencoba fitur kontribusi untuk menambahkan kata dan cerita baru.
Panitia berharap kamus digital ini terus bertambah isinya melalui partisipasi masyarakat, sehingga bahasa dan cerita rakyat Dayak Kebahan tetap hidup dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kegiatan ini didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan. (***)

